Karena manusia memiliki rasio maka ia bisa menjadi poros alam. Jangan mau dikalahkan oleh keadaan. Bermimpi dan berjuang seterusnya, selamanya!

Begadang Bareng Kedai 1001 Mimpi

Edisi baca-baca 





Hanya butuh empat hari bagiku untuk menyelesaikan [membaca] 443 halaman novel anyar berjudul Kedai 1001 Mimpi karya Valiant Budi. Dari halaman pertama, aku sudah ga bisa lepas dari novel ini. Buku ini merupakan kisah nyata Vibi [panggilan Valiant] ketika dia nekad menjadi TKI ke Arab Saudi demi memenuhi ambisinya dalam menulis. Kevalidan data dan fakta memang jauh lebih membuahkan hasil daripada sekedar khayalan. Menurutku, si Vibi ni emang salah satu orang yang sedang sakit gila no 33. Masa kuliah dan lulus dari fakultas hukum tapi milih jadi barista [PSK=Peracik Susu Kopi :)] di Saudi cuma untuk nulis?? Sebagai catatan, si Vibi nih mengawali karier sebagai penyiar, lalu editor dan juga seorang penulis. Dia juga pernah menjadi web administrator dan creative director lho. Kurang apa coba? Dasar edan.

Di buku ini Vibi ceritain kisah nyatanya dari dia proses sebelum berangkat ke Saudi, ditempatin di kota Dammam, sampe akhirnya balik ke Jakarta. Berbagai culture shock bertubi-tubi dia alami. Tentang kelakuan orang Saudi yang betapa mereka sangat angkuh dan kebal hukum. Angkuh karena merasa orang Islam yang paling benar juga paling tinggi derajatnya dan kebal hukum karena bagi mereka yang patut dihukum tu cuma para pendatang. Peraturan seolah cuma dibuat untuk pendatang. [kam]preet!!! Dan yang paling miris lagi disini banyak sekali peristiwa yang mencerminkan bahwa segala kelakuan mereka gak berkelas dan jauh dari nilai Islam.

Sangat terasa sekali perbedaan budaya antara Indonesia dengan Arab. Menguap sudah gambaran orang Arab, yang katanya kerabat dekat Nabi Muhammad , sangat Islami, dan bermartabat itu. Ternyata kita memang harus memisahkan dengan tegas antara budaya dengan agama. Antara Saudi dan Islam sebagai entitas yang jauh berbeda. Yang paling kocak sekaligus bikin jijay bajaj adalah ternyata disana banyak homo ya ciin ...  rupanya kaum nabi Luth yang dulu uda ditenggelamkan di dasar laut mati masih aja beredar di masa kini...Hahahahaha....eh Astaghfirullah...

Bekerja sebagai barista yang gradenya lebih tinggi dikit dari PRT ternyata tidak menghindarkan si Vibi dari perlakuan diskriminatif dari partner maupun atasannya. Dia banyak cerita tentang kebobrokan sistem kerja kedai kopi internasional tempat dia kerja disana. Bayangin aja susu basi harus tetep dipake. Begitu pula gelas kertas dan tissue bekas pake dengan alasan perusahaan sedang dalam kesulitan. Padahal itu hanya akal-akalan aja demi mengejar bonus akhir tahun. Belum lagi ada pegawai yang suka nyelipin upil di muffin atau bahkan ngeludahin racikan kopi yang dibuatnya kalau ketemu pelanggan yang cerewet. Hiiiy!

Nah yang paling menarik di sini adalah tentang cerita-cerita ajaib para TKI kita di sana. As we know, TKI selalu dielu-elukan disini dengan jargon abadi "pahlawan devisa". Trus kalo ada kasus, selalu pemerintah yang disalahkan. Well, di buku ini kita bisa temuin fakta-fakta dan sisi lain tentang mereka. Memang banyak TKI kita yang mengalami berbagai penyiksaan dan pelecehan. Alasannya [menurutku] karena mindset orang Saudi masih lekat bahwa PRT=budak. Mereka merasa berhak melakukan apa aja terhadap budaknya. Secara, hukum hanya berlaku buat pendatang kan?

Vibi menggambarkan disini kalau budaya kekerasan itu sudah dialami orang Saudi sejak kanak-kanak. Ada anak kecil yang ditampar berkali-kali oleh bapaknya dengan alasan sepele di tempat umum. Remaja putri yang dibakar hidup-hidup karena ketahuan berfoto bersama pacarnya yang tuh foto bahkan ga ada mesra-mesranya lho. Yang paling ekstrim adalah kejadian kebakaran yang melanda sebuah sekolah putri. Karena panik, sebagian besar pelajar putri tersebut lupa memakai burkahnya. Tapi jahatnya, pemadam dan polisi setempat malah menyuruh mereka kembali ke ruangan [yang tengah terbakar] untuk mengambil kembali burkahnya. Alhasil, banyak yang meninggal sia-sia dalam kejadian tsb. Kekerasan didukung oleh keadaan alam yang keras itu kemudian membentuk karakter orang Saudi menjadi bar-bar begitu. Meski demikian ada juga karakter Arabian yang baik dalam cerita Vibi ini.  Eniwei, TKI kita juga gak semuanya baik-baik lho. Vibi menemukan beberapa profesi lain seperti homo komersial, penari tiang dan juga [maaf] PSK. 

Ada banyak ironi dan ketidakadilan yang diterima oleh saudara2 kita yang bekerja di sana, seperti orang Indonesia dianggap bodoh, ga bisa bahasa Inggris, ga mungkin nonton film barat atau nyanyi lagu barat juga gaptek. Bahkan derajat orang Indonesia masih di bawah orang Pinoy [sebutan untuk tenaga kerja dari Filipina]. Kalo ada masalah, misal terjadi kasus kehilangan atau kekerasan, maka mereka dengan seenaknya bisa memutarbalik fakta. Dan posisi orang Indonesia adalah paling lemah. Ga heran kalo banyak banget warga kita yang mengalami kekerasan lahir dan bathin. Kenapa? Akar dari semua itu adalah pendidikan. Mereka yang dengan sejuta mimpinya pergi ke Arab menjadi TKI sebagian besar kurang "siap tempur". 


Buku ini sukses dunia akhirat membuatku melek, ngakak plus mlongo [saking shock-nya]. Uniknya semua kejadian baik yang lucu, aneh maupun mengerikan itu dituturkan penulisnya dengan kocak, ringan dan positif [tidak menghujat apalagi menggurui]. Mungkin bahasa kerennya disebut 'comical' kali ya. Alurnya mengalir bebas dan celetukan/ceplosannya tu so natural. Kayak guyonan dengan sahabat dekat di warung kopi atau kantin kantor. Aku seperti melihat kejadian itu secara langsung, penggambarannya detil dan ga mengada-ngada.

Membaca novel ini seperti menikmati secangkir kopi, ada sensasi manis dan pahit secara bersamaan. All kinds of emotion is mixed up magically here. Setelah merampungkan halaman terakhir, aku sangat tersadarkan akan satu hal bahwa meskipun negara Indonesia kusut dan banyak masalah, tapi ga ada negara yang sesantun, berbudaya dan bermartabat selain Indonesia. Negara super majemuk ini masih ramah untuk ditinggali. Alhamdulillah.

*Buku ini highly recomended bagi kamu yang pingin berwawasan luas and ga terjebak dengan stereotip geje tentang TKI dan Arab Saudi. ga percaya? baca aja! :)

2 comments:

  1. Setahu saya orang2 Arab sampe skrg masih menganut perbudakan. Jd PRT disana memang dianggap budak. Boleh diapa2in seenak majikannya. Dari dulu watak orang2 Arab memang terkenal paling kurang baik, makanya kemudian Islam hadir disana untuk memperbaikinya. Tp ternyta skrg balik lg ke watak aslinya. Di novelnya Vibi kayaknya belum menyinggung masalah politik busuknya pemerintahan Arab. Termasuk hub dg Amerika. Yg paling menjengkelkan, skrg disekitar masjidil haram skrg justru full dg bangunan mewah yg sangat mahal2 harganya. Semuanya dikomersialisasikan. Satu lagi, kebanyakan orang sana menjalankan hukum hanya lewat Al-Qur'an saja tanpa melihat haditsnya. Padahal dua2nya harus dipegang. Di novelnya kang Abik jg selalu diceritakan bagaimana watak2 jelek orang Arab. Apalagi mulut2 perempuannya... Hmmm.

    ReplyDelete
  2. BetooL...gila ya, pengetahuan disana cuma sebatas uang, uang dan uang. Pendidikan dianggap ga penting. Nyalain laptop aja ga bisa, maunya cuma baca gambar g mau baca huruf. Hadoh, setuju dg tulisan vibi yaitu Islam berasal dari terasing, dan rupanya sekarang kembali terasing.

    ReplyDelete