Karena manusia memiliki rasio maka ia bisa menjadi poros alam. Jangan mau dikalahkan oleh keadaan. Bermimpi dan berjuang seterusnya, selamanya!

untitled



Untuk pertama kalinya kita menapak kosmos yang sama bersama. Seberapa lama? Sayangnya cuma kamu yang tau jawabannya. Aku menggamit tanganmu untuk menyusuri jalan setapak dengan semak belukar setinggi lutut di kanan kirinya. Jalan ini seperti tak berujung, tapi kita tak pedulikan itu.

Wajahmu tak secerah dulu, redup dan sedikit tergambar semburat cemas. Kamu ...berbeda. Aku menunggu, menunggumu melimpahkan air bah di balik redupmu itu. Membiarkanmu menyandarkan beban sejenak yang mengalir deras seperti banjir bandang. Tumpah ruah.

Kita masih berjalan lambat-lambat di jalan setapak kala matahari kian tenggelam. Meninggalkan siluet senja bertabur awan-awan tipis menggantung enggan. Perlahan kulepas genggamanku. Aku tau kamu sudah akan pergi, lagi. Aku menatap punggungmu yang kian menjauh tanpa bergeser sedikitpun. Sampai kamu tak tampak lagi, menghilang bersama sang surya.

Aku tertegun. Gemuruh lautan emosi yang sedari tadi teredam sunyi tak dapat dibungkam lagi. Bulir-bulir air mata menjadi bahasa yang jelas menerjemahkan semua. Bukan pergimu yang kutangisi, tapi dirimulah yang merajam hati. Aku seperti baru saja menghabiskan beberapa saat dengan orang asing yang serupa denganmu. Siapakah kamu? Kenapa tak se-inci pun aku mengenalmu?

Rembulan menegurku, rupanya terlalu lama aku terpaku di situ. Kubalikkan badanku, melangkah cepat-cepat sambil berbisik pada angin "mungkin aku terlalu peduli". Celakanya, aku masih ingin menunggumu...kembali.

No comments:

Post a Comment