Karena manusia memiliki rasio maka ia bisa menjadi poros alam. Jangan mau dikalahkan oleh keadaan. Bermimpi dan berjuang seterusnya, selamanya!

Menunggu = Sabar

Hari ini kerjaan humas numpuk banget, aku ulangi NUMPUK BANGET. Dari pagi sampe sore, jadwal para pejabat yang harus kami "urus' sangat padat. Pontang-panting kami menyebar bagi-bagi tugas, pagi-pagi sudah rapat perubahan APBN, trus ada perpisahan untuk 3 pejabat yang pensiun, rapim, dan press conference Badan kebijakan Fiskal. pfuuh...

Sesuai schedule, aku hari ini melakukan koordinasi dengan stakeholder kami [sebuah media cetak] yang akan melakukan wawancara dengan Bapak sekretaris jenderal. Sejak dua minggu yang lalu aku sudah berkoordinasi dengan sekretaris pak setjen, dengan unit yang berkompeten dengan topik yang diangkat media tersebut dan melakukan analisis tentang kapasitas media tersebut. 

Dan finally didapat tanggal yang memungkinkan wawancara dilakukan yaitu selasa 26 Juli 2011. Tapi karena pak setjen ada rapim juga pendampingan menteri di DPR, wawancarapun di-reschedule hari ini. Dan disinilah tragedi ini terjadi. Pada waktu yang sudah disepakati, yaitu pukul 1 siang, pak setjen tiba-tiba meng-cancel wawancara. Meminta tim reporter diarahkan ke unit lain saja. Padahal tim reporter sudah stanby di ruangan humas, menunggu dari satu jam sebelum waktu yang disepakati.

Ya Tuhan, aku benar-benar ga habis pikir. Jadi pejabat itu emang segitu sibuknya ya? Antara capek, sebel, juga perasaan ga enak dengan dua orang reporter yang uda rapi jali nunggu hampir dua jam itu, aku pun melaporkan ini kepada atasanku. Atasanku sedikit marah padaku, tapi aku jelasin dengan detail kejadiannya dan alhamdulilah beliau mengerti dan berbalik ga nyalahin aku. 

Bukan karena atasan yang marah-marah yang membuatku sedih, tapi aku sedih melihat dua orang reporter tadi. Mereka reporter dari media sebuah rumah sakit ternama di Jakarta. Bukan tipe jurnalis yang suka asal, mereka sangat rapi, santun dan sabar banget nunggu. Aku pernah mengalami apa yang mereka alami, menunggu sesuatu yang ga jelas hingga akhirnya pun menyakitkan. Berulangkali aku meminta maaf pada bapak-bapak reporter tadi, dan memberikan solusi sesuai dengan arahan atasan yaitu mengganti wawancara dengan tanya jawab secara tertulis saja. Kembali aku yang ngurusin. 

Humas, PR, di sinilah sekarang aku nyemplung. Aku masih sangat dangkal tentang profesi ini. Harus banyak belajar lebih keras lagi...

ps: kepada bapak2 reporter, sekali lagi mohon maaf ya...

No comments:

Post a Comment