Karena manusia memiliki rasio maka ia bisa menjadi poros alam. Jangan mau dikalahkan oleh keadaan. Bermimpi dan berjuang seterusnya, selamanya!

the last post

Edisi blue spark


Pagi yang sejuk dan segar, kamu keluar dan berdiri di balkon lantai tiga. Menyambut udara pagi, secercah sinar mentari dan tentu saja angin semilir peninggalan sang malam. Pagi ini kamu hanya ingin bercengkrama dengan angin dan berbagi cerita … tentang dia.

Dia, yang tidak pernah kamu mengerti. Dia yang serupa racun, membunuhmu perlahan. Dia, yang kamu reka dan kamu cipta sedemikian rupa. Dia, yang nyata sekaligus absurd. Dia …

Sebagian dari dirimu menginginkan dia hadir setiap saat desir rindu mengganggu. Tapi sebagian lagi menyesalkan sensasi magis yang hadir kala kalian bertemu dengan tak biasa. Betapa setetas air mata yang jatuh pun terhitung, tak ada yang sia-sia, segalanya pasti akan bermuara pada sebuah samudra yang tak berbatas, lautan merdeka yang bersanding sejajar dengan cakrawala.

Kalau saja kekuatan kosmik mampu berdiri stagnan di satu titik, maka tanpa ragu kamu akan memilih satu detik bersamanya untuk diabadikan. Cukup satu. Satu detik yang segenap keberadaannya hanya dipersembahkan untuk bersamamu, dan bukan dengan ribuan hal yang lain yang menanti untuk dilirik pada detik berikutnya.

Tapi, hidup ini cair, semesta ini bergerak. Realitas berubah . Hidup akan mengikis apa saja yang memilih diam, memaksa kita mengikuti arusNya yang jujur  tetapi penuh rahasia.

Cinta tidak hanya pikiran dan kenangan. Cinta adalah dia dan kamu. Interaksi. Karena sebenarnya cinta itu hidup, bukan sekedar maskot untuk disembah sujud.

Kamu ingin berhenti menyumbat denyut alami hidup dan membiarkannya bergulir tanpa beban. Lepas saja.

Dia, yang tidak pernah sekalipun menyimpan gambarmu, pasti tidak tahu seperti apa rasanya menatap lekat-lekat satu sosok ditengah keramaian secara diam-diam tanpa terusik apapun. Dia, yang selalu kamu rindukan senyuman serta gelak candanya, pasti tidak pernah paham mengapa kamu bersedia mengulur waktu hanya untuk mendengarkannya berbagi kesah. Dia, yang tidak mungkin ada ketika kamu sangat butuh dukungan, orang yang mungkin memikirkan kamu hanya seperseribu dari seluruh waktu yang kamu habiskan untuk melamunkan dia. Dan kamu hanya mampu berbagi kesedihan itu dengan selembar kertas, dengan malam-malam yang pasrah digusur pagi, dengan temaram lampu yang sengaja kau padamkan. Dengan gelap yang dilumat sepi.

Ketika desir angin pagi membangunkanmu, masih saja kamu membatu tak mau pergi dari perbatasan usai dan tidak usai. Hatimu tak pernah beranjak dari meragu. Kamu, yang merasakan apa yang dia rasakan, yang mendamba untuk mengalami, yang akhirnya luruh dalam rengkuhan pagi berbalut angin dan sejuknya senyum magis. Dan kamu, yang selalu merebahkan diri pada pangkuan sepi, memberanikan diri untuk membeku dalam kobaran api, sendiri. Membingkai hari-harimu menjadi satir; menertawakan sesuatu yang sebenarnya tidak lucu.

~Kepada mereka yang masih akrab dengan insomnia dan kepada mereka yang masih setia dengan satir menawannya~

*thanks to Dee, you've reanimated the magical words on me, let's collaborate sist ahahaha ngawur.

No comments:

Post a Comment