Karena manusia memiliki rasio maka ia bisa menjadi poros alam. Jangan mau dikalahkan oleh keadaan. Bermimpi dan berjuang seterusnya, selamanya!

It's my cosmos, how's yours?

"Coba tebak, siapa yang mengejar, menyerah untuk ditangkap, tapi dilepas tanpa diberi pegangan, dihempaskan ke dalam lumpur??" *

Metafora yang bagus sekali untuk menggambarkan kehancuran fatal dari sebuah kepercayaan. Manusia memang aneh, ketika dia kesepian, terluka dan minta disembuhkan, begitu ada sang penyelamat seakan si pahlawan itu adalah Tuhan yang bisa dengan satu "kun" saja bisa memenuhi semua permintaan sang penderita. Padahal wujudnya juga masih sama, yaitu manusia biasa yang punya keterbatasan, yang punya perasaan tetapi mau berjuang.

Ada banyak kisah yang tak sempurna, retak dimana-mana, juga hancur berkeping tak bersisa. That's life, mate. Dalam kosmos masing-masing dari kita akan ada banyak puzzle yang berwarna gelap, remang dan muram. Tak perlulah dibuang, letakkan saja puzzle-puzzle pesakitan itu sebagai penanda, sebagai pinggiran atau sebagai ujung dari pola yang ingin kau bentuk. Biarkan dia di sana untuk mengingatkanmu kelak bahwa kau tumbuh tak hanya dari suka, canda, dan tawa saja tetapi juga dari tumpukan luka, jatuh dan air mata. Dengan begitu kau, aku dan kita semua akan mahfum bahwa manusia memang harus terus berputar, berproses, berotasi sesuai dengan kehendakNya. 

Nikmati saja rotasi ini, biarkan mencair pelan dan menguap direnggut si raja waktu. Suatu hari nanti kita akan melihat rangkaian puzzle dalam kosmos kita dengan sedikit senyum atau bahkan ledakan tawa membahana, menertawakan betapa lucunya kita dulu, betapa buruknya rupa kita, hingga terguling-guling di lantai. Kita akan saling menertawakan satu sama lain dan berseru:

"Kawan, ini kosmosku ... bagaimana dengan kosmosmu??"


~Kenmochi Chiemi~
*mengutip dari curahan hati  penuh energi seorang yang berjiwa besar
 

No comments:

Post a Comment